Selasa, 15 Juli 2008

TUJUH LANGKAH MENJADI WARTAWAN 'BENERAN'


KINI, menjadi wartawan 'beneran' (baca: profesional) adalah sebuah keharusan. Sebab surat kabar sesungguhnya pabrik yang menjual pengaruh. Sementara komoditi atau mata dagangannya adalah kata-kata. Namun tidak semua kata-kata akan laku dijual, kecuali kata-kata yang bisa dipercaya. Menghasilkan kata-kata yang bisa dipercaya tentu tidak mudah. Kata-kata yang dipercaya hanya lahir dari pena wartawan yang secara moral baik dan teruji; kata-kata yang bisa dipercaya lahir dari pena wartawan yang secara politik tidak memihak; dan kata-kata yang bisa dipercaya lahir dari pena wartawan profesional.
Pesan saya, kiat ini jangan dianggap sebagai teori atau rumus pasti. Ini hanya pendapat pribadi. Bisa saja apa yang saya tulis ini benar, setengah benar, atau tidak benar sama sekali. Agar lebih demokratis, saya persilakan Anda menyimpulkan sendiri-sendiri. Karena sesungguhnya wartawan sejati adalah pertapa hebat. Artinya, dia sanggup kesepian di tengah keramaian dan lebih peduli pada “apa” daripada “siapa...”

Ukur Kemampuan

Langkah awal yang harus dilakukan untuk menjadi wartawan profesional adalah mengukur keahlian jurnalistik Anda sendiri. Setiap bidang pekerjaan memang memiliki kualifikasi penguasaan tertentu yang terbagi dalam penguasaan pengetahuan, ketrampilan, dan sikap. Misalnya jika Anda wartawan liputan hukum dan kriminalitas, tentu Anda harus memiliki pengetahuan tentang KUHP, mengurai kronologi kejadian, memotret TKP, mewawancarai korban kejahatan dan lain sebagainya. Dan tentu saja, pengetahuan dan ketrampilan ini harus didukung oleh sikap disiplin, pantang menyerah, ramah, supel, dan familiar.

Nilai Diri Sendiri

Nilailah diri Anda dengan jujur. Tanyakan pada diri Anda, apakah Anda sudah memiliki sikap yang menunjang tugas dan pekerjaan Anda. Sebaiknya Anda juga meminta ‘feedback’ dari orang lain di sekeliling Anda. Masalahnya, kadang Anda merasa sudah cukup profesional saat melakukan liputan, tetapi ternyata menurut orang-orang di sekitar Anda tidak demikian. Untuk kolom pengetahuan dan ketrampilan nilailah seberapa baik diri Anda untuk setiap aspek yang telah ditentukan. Penilaian itu “baik, cukup, atau kurang”. Untuk penilaian ini pun Anda harus berlaku objektif, kalau perlu Anda bisa minta bantuan teman Anda untuk menilai pengetahuan dan ketrampilan Anda. Misalnya ketrampilan meliput dan menulis Anda “baik, cukup, atau kurang”.

Menyadari Kekurangan

Dari kedua hal di atas, Anda dapat menyadari apa saja kelemahan dan kekurangan Anda. Tapi jika sudah menyadari, jangan terlalu banyak toleransi pada diri sendiri dengan tidak melakukan peningkatan. Segeralah bertindak, jika pengetahuan dan ketrampilan Anda masih kurang, lakukan peningkatan dan penambahan kualitas ketrampilan dan pengetahuan jurnalistik Anda.

Berlatih, Berlatih, dan Berlatih

Semakin sering Anda berlatih akan semakin baik bagi Anda untuk menjadi seorang wartawan profesional. Kondisikan diri Anda seperti seorang atlet yang harus meraih ‘juara’. Tentukan target dalam berlatih. Misalnya kalau saat ini Anda sedang berlatih meningkatkan ketrampilan menulis features, minimal tiga bulan ke depan Anda sudah lancar menulis itu. Caranya, tentu dengan berlatih langsung dengan orang yang terampil di bidang tersebut. Tambahkan porsi latihan dari waktu ke waktu.

Galang Kekuatan Pendukung

Untuk menjadi wartawan profesional diperlukan pendukung yang kuat. Pendukung itu adalah orang-orang yang selalu mensupport dan membantu Anda dalam mencapai keahlian. Orang-orang tersebut terdiri dari orang-orang di lingkungan pekerjaan yang bisa diajak berdiskusi tentang segala sesuatu yang berkaitan dengan peningkatan keahlian; orang yang mau melatih Anda; orang yang memberikan informasi tentang hal-hal yang Anda perlukan; orang yang bisa memberikan ‘feedback’ tentang performa kinerja Anda; orang yang menyemangati tugas Anda; dan orang-orang yang dapat membantu memperluas hubungan sosial yang berguna bagi tugas liputan Anda.

Terus Lakukan Pembaruan

Jika Anda merasa sudah cukup ahli menulis stright news, jangan terpaku pada satu keahlian tersebut. Lakukan pembaruan dan penyegaran agar keahlian yang Anda miliki tidak ketinggalan jaman. Jangan lupa untuk selalu memanfaatkan keahlian Anda untuk hal-hal yang berguna. Karena keahlian yang tidak dimanfaatkan akan mengalami ‘stagnasi’.

Mengevaluasi Diri

Langkah terakhir yang harus Anda lakukan untuk menjadi wartawan profesional adalah dengan melakukan evaluasi secara berkala. Misalnya, kekurangan dan kelemahan apa saja yang berhasil Anda atasi? Target keahlian liputan atau gaya menulis berita apa yang sudah tercapai? Sejauh mana peran pendukung dapat membantu usaha Anda dan kekuatan pendukung mana yang perlu ditambah? Sejauh mana keahlian yang telah Anda capai dapat bermanfaat? Pertanyaan-pertanyaan ini akan membantu Anda dalam memosisikan diri untuk menjadi wartawan profesional.

Dengan melakukan hal-hal di atas secara lebih serius, fokus, dan konsisten, Anda akan menjadi wartawan profesional. Tetapi ingat, keahlian tanpa kepedulian pada orang lain, percuma saja. Selain untuk diri pribadi dan karir, manfaatkan keahlian Anda untuk kepentingan sosial dan mereka yang membutuhkan, semisal melakukan pelatihan jurnalistik ke sekolah-sekolah atau kampus. Bukankah keahlian Anda akan semakin berarti bila berguna bagi orang lain? Bravo! (*)

1 komentar:

Manusia Pembelajar mengatakan...

Halo Pak Kapolres. Apa kabar. Jangan senyum terus dong, Kasat lantas nilang cewek tuh. Melotot dikit dong, nilangnya sambil colek-colek lagi. Kan ceweknya jadi merem melek. Pake nanya Kapolresnya lagi, katanya dia tanya pak Kapolres kumisnya tipis and rada ganteng. he hehehe. Tapi kayanya agak play boy tuh. Bener nggak ya.