Selasa, 15 Juli 2008

BUKAN SEKADAR REDAKTUR "PAPAN NAMA"


PENDAPAT saya, sungguh merugi jika masih ada perusahaan koran yang menggaji redaktur hanya untuk memotong buntut berita. Sejatinya, mengedit atau menyunting bukan sekadar memotong tulisan agar pas dengan space halaman. Kenapa?
Saya gambarkan begini, dalam dunia usaha kuliner misalnya, posisi redaktur ibarat kepala juru masak (chief cook) yang bertugas mengontrol kualitas makanan sebelum dihidangkan ke meja pelanggan (baca: konsumen). Enak di lidah, konsumen kembali. Tak enak di lidah, konsumen pergi. Masih mending hanya sekadar pergi, lha kalau marah-marah sambil mencaci-maki?
Intinya, tugas redaktur meracik atau meramu tulisan wartawan agar enak dibaca dan menarik. Di dunia usaha kuliner pun sama, makanan baru memiliki nilai jual ketika memenuhi unsur enak dan menarik. Nah, agar para redaktur tidak melenceng dari tugas utamanya, mereka harus paham apa tugas dan fungsinya terlebih dahulu. Sebab banyak contoh kasus, gara-gara redaktur tak paham tugas dan fungsinya, usai koran naik cetak wartawan yang menulis berita “diuber-uber” narasumber lantaran berita yang diedit acak-acakan. Sudah begitu, miskin rasa bahasa pula!
Saat menyunting, para redaktur hendaknya paham, menyunting terbagi dua hal. Pertama menyunting secara redaksional; kedua menyunting secara substansial. Menyunting secara redaksional mewajibkan redaktur memeriksa tiap kata dan kalimat agar logis, mudah dipahami, serta tidak rancu (benar ejaannya, punya arti, dan enak dibaca). Sedangkan menyunting secara substansial, redaktur wajib memperhatikan data dan fakta agar berita yang ditulis wartawan tetap akurat, berimbang, isi tulisannya mudah dimengerti, dan sistematikanya tetap terjaga.
Jika para calon redaktur (asisten redaktur) memahami tugas dan fungsi redaktur yang seabrek, saya yakin betul, mereka tak bisa duduk santai di ruang redaksi. Boleh jadi jika mental mereka kurang bagus, lebih memilih tetap jadi wartawan. Terkecuali bagi para “pemburu” jabatan.
Para wartawan di tempat saya bekerja menyebut redaktur model begitu dengan sebutan redaktur “papan nama”. Tidak tahu istilah itu mereka dapat dari mana. Tapi jika ditilik serius, barangkali merujuk pada kasus organisasi kepemudaan atau kemasyarakatan yang kerap merongrong anggaran pemerintah tapi tak pernah punya hajat atau gawe. Istilahnya organisasi papan nama.
“Jabatannya memang redaktur, Pak. Tapi dia tidak paham tugas dan fungsinya sebagai redaktur,” protes wartawan saat saya memimpin rapat budgetting berita di rapat redaksi. Dia (si wartawan) mengaku kesal karena dua jam sebelumnya dikomplain narasumber karena apa yang dia ulas saat meliput tak sesuai fakta setelah diedit redaktur. Lucu memang, wartawan kok mengumpat redaktur. Tapi itu aspirasi yang harus dihargai.
Ciri-ciri redaktur “sungguhan” memang mudah diidentifikasi, seperti memiliki wawasan luas, menguasai ilmu jurnalistik, berkepala dingin, sanggup bekerja dalam suasana tergesa-gesa dan rumit tanpa menderita perasaan tertekan, cermat, hati-hati, tekun, tegas, dan selalu melihat sesuatu dari sudut pandang pembaca (berorientasi pada kepentingan pembaca). Soal tugas utamanya, silakan rekan-rekan calon wartawan, wartawan, dan para redaktur amati seperti tertera di bawah ini:

1. Memperbaiki kesalahan-kesalahan faktual.
2. Menghindari kontradiksi dan mengedit berita untuk diperbaiki.
3. Memperbaiki kesalahan ejaan (tanda baca, tatabahasa, angka, nama, dan alamat).
4. Menyesuaikan gaya bahasa dengan gaya surat kabar bersangkutan.
5. Mengetatkan tulisan (meringkas beberapa kalimat menjadi satu atau dua kalimat yang memiliki kejelasan makna serupa).
6. Menghindari unsur-unsur penghinaan, arti ganda, dan tulisan yang memuakkan (bad taste).
7. Melengkapi tulisan dengan bahan-bahan tipografi (semisal, anak judul/subjudul).
8. Menulis judul yang menarik.
9. Menulis keterangan gambar (caption) untuk gambar atau foto dan pekerjaan lain yang bersangkutan dengan berita yang disunting.
10. Menelaah kembali hasil tulisan yang telah dicetak, mungkin masih terdapat kesalahan secara redaksional dan substansial.

Tak hanya itu, selain tahu akan tugasnya, seorang redaktur akan fokus pada naskah berita yang dieditnya. Mereka sadar akan latar belakang para pembaca (umur, taraf hidup, dan gaya hidup) sehingga naskah berita yang ditulis wartawan diharapkan sesuai dengan latar belakang itu. Redaktur selalu bisa memperbaiki tulisan tanpa merusak cara wartawan memaparkan pendapatnya, dan selalu waspada dengan iklan terselubung yang masuk ke dalam tulisan.
Akhir kata, kesalahan datangnya hanya dari saya, kebenaran mutlak milik Allah SWT. Semoga tulisan ini bermanfaat. Sukses selalu! (*)

1 komentar:

RIYADI KS mengatakan...

Mas wawan, memang betul apa yang sampean ulas. Sekarang ini banyak redaktur yang enggak ngerti apa-apa tentang teknik mengedit tapi pada nyandang jabatan redaktur. Kasihan perusahaan koran yang menggajinya. Ngomong-ngomong tulisannya diperbanyak dong. Trims!