WARTAWAN adalah ujung tombak berita. Di tangan wartawanlah, sesungguhnya bagus tidaknya berita ditentukan. Bukan oleh redaktur. Lalu, apa pengaruhnya jika penilaian kinerja wartawan tidak ada, baik dari sisi semangat maupun produktifitas?
Biasanya, penilaian kinerja wartawan berujung pada berapa persen kenaikan gajinya (wartawan yang sudah diangkat menjadi karyawan tetap tentunya), atau bisa juga berujung pada berapa bonus yang didapat. Sebab logikanya, semakin baik kontribusi wartawan, maka gaji atau bonusnya harus semakin besar.
Tidak adanya sistem penilaian kinerja wartawan, jelas akan menyulitkan pimpinan divisi tempat si wartawan bekerja dalam melihat mana wartawan yang bagus dalam berkarya, mana yang tidak. Akibatnya, dalam memperhitungkan kenaikan gaji atau bonus tidak berdasarkan data kuat dan akurat. Bisa sangat mungkin hanya berdasarkan hubungan baik antara wartawan dengan pimimpinannya saja.
Bisa dibayangkan jika hal itu terjadi, maka wartawan yang merasa
dirinya sudah memberikan kontribusi banyak menjadi malas bahkan memutuskan pindah bekerja ke media lain. Sebaliknya, bisa juga pihak pimpinan---karena tidak ada sistem penilaian yang jelas---mengambil keputusan menaikkan gaji wartawan secara pukul rata, semua sama besarnya.
Jika ini yang diambil, bisa dibayangkan wartawan akan semakin malas untuk bekerja. "Lha wong kerja asal-asalan saja sama dapetnya dengan yang kerja rajin, kok..." Ujung-ujungnya, perusahaan juga yang kena!
Apakah penggajian wartawan yang adil berpengaruh terhadap produktifitas wartawan? Jelas! Jika perusahaan berhasil membuat sistem penilaian kinerja wartawan yang baik dan adil, maka bisa dijadikan dasar atau masukkan untuk gaji wartawan dimaksud, terutama jika berhubungan dengan prosentase kenaikan gajinya.
Sistem gaji yang adil, pendapat saya, harus dilihat lagi lingkup pekerjaan dan tanggung jawab si wartawan bersangkutan. Banyak langkah yang harus dilakukan. Hemat saya, sebaiknya penilaian kinerja wartawan dibagi menjadi dua bagian. Pertama sistem penilaiannya itu sendiri, kedua proses penilaiannya.
Sistem Penilaian
Sebaiknya dalam sistem penilaian kinerja wartawan berisi target-target. Teorinya sering disebut KRA (Key Result Area) atau KPI (Key Performance Indikator). Dari mana list target ini? Besarannya tentu berdasarkan turunan dari target besar perusahaan yang diturunkan ke dalam level divisi hingga ke level individu si wartawan. Sedangkan ragamnya bisa dilihat melalui job descrption-nya. Karena bicara target, maka ukuran kinerja wartawan harus terukur, jelas sebutkan angkanya (kuantitatif). Untuk penilaian kualitatif, jangan menggunakan kata-kata bersayap, semisal “lebih baik”. Jika menilai “baik”, tentukan kriteria baik itu seperti apa? Draft KRA/KPI ini jangan terlalu banyak. Tujuannya agar si wartawan bisa fokus dengan targetnya.
Proses Penilaian
Di awal tahun, sebaiknya antara atasan dan si wartawan duduk bersama untuk menentukan secara bersama-sama target apa yang akan dicapai. Jadi sifatnya jangan hanya top down saja. Betul atasan mempunyai wewenang untuk menentukan, tetapi alangkah baiknya jika wartawan yang bersangkutan juga diajak untuk berpikir agar ada komitmen dalam dirinya. Nah, di tengah semester diadakan review atas hasil yang sudah dicapai. Dan diakhir tahun dinilai hasil akhirnya.
Masih relevankah menilai kinerja wartawan dari cara-cara di luar mekanisme penilaian kerja? Menurut saya tergantung dari jenis atau sistem penilaiannya. Jika sistem penilaian kinerja wartawan hanya berdasarkan “rasa-rasanya” atau “kedekatan” saja, nampaknya sudah kurang relevan. Jadi yang menjadi faktor kuncinya bukan lagi pada ada tidaknya sistem penilaian kinerja wartawan, tetapi bagaimana sistem penilaiannya.
Apakah memberikan imbalan penghargaan kepada wartawan harus mutlak dengan uang? Setahu saya, dalam menghargai wartawan tidak hanya berbentuk uang. Karena seperti dalam teori Maslow, manusia (wartawan) memiliki jenjang kebutuhan dari materi hingga aktualisasi diri. Jika hanya uang, saya jawab tidak! Banyak bentuk reward yang bisa diberikan pihak perusahaan terhadap wartawan. Semisal, sistem karir yang jelas, berbagai macam tunjangan kesehatan yang jelas, dan lain sebagainya.
Yang tak kalah penting, adalah mendukung fasilitas pengembangan wartawan. Hal itu memang tergantung concern pihak manajemen. Namun secara umum, jika kita bicara fasilitas pengembangan, berarti kita menyediakan infrastruktur agar wartawan bisa berkembang secara knowledge dan skill nya. Caranya bisa dengan sistem mutasi-promosi yang pas, sistem perencanaan karir yang bagus, dan program training yang bagus. (*)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar